Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Roti Selai Keju

Gambar
Seperti seorang selebritas aku mungkin bisa diibaratkan sedang berada di puncak karir. Saat ini aku sedang dekat dengan seseorang, namanya Astro. Yups, dia adalah selebritis di sekolah. Atlet basket yang tinggi dan putih pastinya. Kontan saja cewek-cewek satu sekolah ngiri kepadaku karena aku dekat dengan Astro. Mudah-mudahan kedekatan itu menandakan sesuatu, aku sudah sangat siap andaikata Astro menyatakan cintanya kepadaku. Tak ragu lagi, aku akan bilang Yess.. yess... yess. Walau lama rasanya menunggu hari itu tiba, tapi aku akan selalu bersabar. Aku yakin suatu saat Astro akan menyatakan cintanya kepadaku. Waktu berjalan sepenggal, sekolah telah bubar, aku langsung ke tempat latihan Astro, tempatnya tak jauh di kelasku, tepat di pojok sekolah sebelah kiri kantin. Disitulah lapangan basket tempat Astro dan tim sekolah latihan. Jam segini biasanya Astro sedang istirahat latihan atau kadang baru mau mulai. Aku kesana dengan membawa sebotol softdrink kesukaannya dan kubaw...

Harapan di Tengah Senja

Gambar
Jantungku diterpa suasana DAG DIG DUG. Sebentar lagi sejarah baru akan ku ukir. Aku akan jadi seorang novelis. Sudah setahun ini konsentrasiku kucurahkan untuk menulis novel. Novelku yang berjudul “Harapan di Tengah Senja” ku ikut sertakan dalam Sayembara penulisan novel yang diselenggarakan Dewan Kesenian Kota. Hari yang kutunggu-tunggupun tiba. Malam puncak sayembara penulisan novel. Aku sangat antusias. Aku yakin benar kalau novel yang ku tulis dengan apik ini akan menjadi salah satu pemenang. Bagi tujuh novel yang terpilih dalam sayembara ini maka novelnya akan di terbitkan. Malam puncak sayembara novel banyak di hadiri sastrawan terkenal, tokoh-tokoh dunia seni dan juga pejabat pemerintah. Aku duduk di barisan belakang. Pengumuman pun tiba.                “Inilah malam penganugerahan sayembara dewan kesenian kota. Adapun pemenang-pemenang yang siap menjadi sastrawan sekaligus no...

Kasih Tertinggal di Jakarta

Gambar
Bahkan di jaman secanggih ini, saat jejaring sosial mampu mencari siapapun aku tak bisa juga menemukan jejaknya.  Seorang gadis berwajah oriental yang pernah ku temui di Jakarta dalam sebuah kesempatan. Sehari saja kebersamaanku dengannya tapi seperti semusim cinta yang bernuansa. Kebersamaan dalam putaran roda waktu yang terus berjalan hingga menghentikan semuanya, menghentikan kebersamaanku dengannya. Sayang langkahku terbatas saat itu hingga tak sanggup kuantar langkahnya sampai ke peraduan. Jabat tangan pun akhirnya menjadi penanda akhir cerita kita. Tatapan yang sayu mengiringi langkahku dan langkahnya menjauhi titik yang sebelumnya kita pijak bersama. Ini adalah sebuah kenangan indah yang mungkin akan sulit tergantikan. Selvi, sebuah nama yang sampai saat ini masih terngiang-ngiang ditelingaku. Wajah putihnya seperti cahaya rembulan yang menerangi setiap malam. senyum manisnya seperti lukisan yang membuat mata tak mampu untuk terpejam.  Tutur katanya yang l...

Aku, Dia, dan Angkutan Kota

Gambar
Sore saat langit mulai gelap karna akan ditinggal mentari pergi, aku selesai belajar di sekolah. Maka seperti anak-anak lain aku pun melangkah cepat untuk bergegas pulang. Maklum saja untuk sampai ke rumah aku harus menunggu angkutan kota. Saat sore seperti ini akan lama sekali untukku bisa mendapatkan angkot. Selain karna sore hari selalu penuh penumpang karna memang jam pulang beraktivitas. Angkot yang menuju rumahku sangat minim jumlahnya.  Sekolahku berada di depan jalan raya. Jauh ke seberang sekitar 10 meter dari sekolahku, ada sebuah jembatan. Disitulah aku bersama teman-teman lain yang searah menunggu angkot. Sekitar 10 meter dari jembatan terdapat sebuah masjid. Masjid itulah yang menolong kami saat adzan berkumandang. Waktu terus berlalu, matahari juga mulai bergerak turun. Sesekali aku melihat jam di tanganku yang terus berputar cepat seperti berlomba. Aku masih juga belum mendapatkan angkot. “Nis..” Sapa seseorang “Kak Fandi” sahutku “Bareng Yuk!” ajak Kak ...

ABANG

Gambar
Lagi lagi Bang Roshan, tak bosan dia membuat salah satu diantara kami menangis. Kemarin lusa Ane, kemarin Dian, dan sekarang Ina dan entah besok siapa lagi. ABang, begitu kami semua memanggilnya. Aku, Ina, Ane, Rima, Eka, dan Dian mengangkatnya sebagai kakak bersama. Hal ini bukan kebetulan memang tapi ada beberapa penyebab yang membuat semua harus seperti itu. Sebetulnya Bang Rhosan adalah teman sekelas kami. Namun karena usianya lebih tua dari kami maka dari itu kami memanggilnya ABang. Ina adalah sosok yang paling pendiam diantara kami semua, namun Ina memiliki sensitivitas, untuk itu perasaanya mudah sekali terluka.                 “Kenapa In, di bentak lagi?” Tanyaku Ina terus menitikan airmata, aku usap pundaknya dan seketika ia berhambur ke pelukanku. Selang berapa lama Ane, Eka, Rima, dan Dian menghampiri kami yang tengah ada di Bundaran taman kampus.        ...

Angkutan Kota Yang Terakhir

Gambar
Malam belum begitu larut masih sekitar jam 8. Tapi angkot yang akan menuju rumahku sudah jarang yang melintasi kalaupun ada angkotnya penuh. Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya. Aku menunggu angkot yang akan membawa aku kerumah. Beginilah setiap hari aku pulang sekolah harus sampai larut malam. Ini karena jadwal disekolah ku padat sekali dan jarak sekolahku yang memang jauh. Dalam balutan malam yang gelap aku berdiri dipinggir jalan sendiri, ya hanya sendiri sampai seseorang yang selaluku nanti kehadirannya datang dan bersamaku menunggu angkot. Seseorang, aku tak tahu siapa namanya, dari mana dia berasal dan akan kemana dia pergi, kami memang belum pernah berkomunikasi. Tampangnya tenang dan tak pernah berbasa-basi sepertinya tapi meski begitu kehadirannya membuat aku merasa aman. begitulah malam-malam ku berlalu bersama seseorang itu. Aku ingin sekali mengenalnya. Tapi gengsi ah masa iya wanita duluan. Aku tidak mau disebut wanita agresif. Makanya meski banyak ...

Kasih Sayang Buat Ulfa..

Gambar
Daun yang berwarna terang oleh sinar matahari menemani kesendirianku. Beginilah aku selalu merasa sendiri bersama suara-suara yang bergemuruh ditengah gelombang udara. Aku selalu sendiri ditengah muram yang selalu menghiasi bagian-bagian mukaku. Aku adalah makhluk planet seperti pluto yang pernah ada dulu. Sebenarnya akuini siapa? Mengapa tak ada orang yang menganggap kepedihanku. Aku seperti angka nol, aku seperti kosong tak terlihat oleh siapa-siapa. Oleh mama, oleh papa, oleh kakak, oleh sahabat, aku tak terlihat oleh siapa-siapa. HAHHHH... Apa benar aku tak berarti dan tak berguna?. Lalu untuk apa aku lahir kedunia. Bukankah tuhan menciptakan manusia dengan kegunaannya?. Berarti aku bergunakan?. Tapi mengapa orang-orang disekitarku tak menganggapku, tak menganggap kepedihanku sehingga setiap keluh kesahku adalah gurauan belaka. TUNGGU!!.. Sebenarnya tak separah itu kok, ini hanya soal papa dan mama yang tak peduli kepadaku. Mereka hanya sibuk dengan rutinitas sehari-h...