Blog Series : Antara Mimpi, Janji, dan Cinta - Episode 1
Pagi-pagi itu seusai
salat Subuh, Rama masih terdiam, duduk di atas ranjang kamarnya. Ditatapnya
cermin yang menempel di dinding kamar seolah bertanya, ‘haruskah aku berangkat?’ Dalam diam itu Sang Ayah datang menghampiri. Ayah
Rama yang masih mengenakan koko dan sarung kotak-kotak warna cokelat itu duduk
di samping Rama. Ditatap oleh Sang Ayah, Rama yang masih bimbang untuk
berangkat atau tidak. Sang ayah kemudian memegang pundak Rama.
“Berangkatlah Ram..
Temui janjimu! Apapun hasilnya yang pasti kamu menepati janjimu. Ingat Ram, janji adalah hutang.” Sahut Pak Mustopa, Ayah
Rama.
“Tapi pak, Aku gagal
memenuhi janji.” Sanggah Rama.
“Setidaknya kamu
berangkat untuk menemuinya, tunjukkan itikad baik. Kamu adalah laki-laki!” Tegas Pak Mustopa.
Rama menarik napas
panjang-panjang “Baiklah Pak, Aku akan berangkat untuk menemuinya.”
Pak Mustopa tersenyum,
seraya beranjak pergi dari kamar Rama. Rama kemudian berdiri mengambil ransel
berukuran sedang yang tertidur di atas lemari yang berdiri kokoh di kamarnya.
Rama membuka lemari dan mengambil beberapa helai pakaian untuk dibawanya pergi.
Rama lalu mendandani dirinya dengan kaos polos putih dan celana jeans biru kehitaman dilengkapi sepatu kets yang juga berwarna putih. Lalu, dirapikan kamarnya
yang berukuran sembilan meter persegi itu. Buku-buku yang berserakan dirapikan
ke rak buku, jendela kamar dikunci rapat-rapat dan ranjang tempat dia tidur
diselimuti oleh seprai. Tidak lupa bantal dan guling juga sudah tertidur nyaman
di atas ranjang.
Hari mulai terang,
matahari di timur tak malu-malu lagi menunjukkan senyumnya. Usai sarapan dan
berpamitan pada ayahnya, Rama beranjak pergi menuju terminal bus. Dengan
menaiki angkutan umum akhirnya Rama sampai di Terminal Baranang Siang Bogor.
Dinaikinya bus AC dengan trayek Bogor-Bandung.
Rama akan menempuh perjalanan ke Garut lewat Bandung. Perjalanan Bogor ke Garut
lewat Bandung memang lebih cepat dan efisien. Lebih cepat karena lewat tol
Cipularang sehingga bebas dari kemacetan. Sedangkan bus lain dengan trayek
Bogor-Garut melewati puncak yang rentan dengan kemacetan. Meskipun pemandangan
puncak lebih menggoda, Rama tetap memilih ke Garut lewat Bandung karena tak
ingin berlama-lama di perjalanan.
Pukul 09.50 tepat bus
yang ditumpangi Rama berangkat. Rama duduk di kursi baris kelima dari depan,
tepatnya di kursi paling kiri menghadap keluar kaca. Matahari bersinar
cukup terik, namun matahari yang terik
tidak membuat Rama kepanasan karena bus yang Rama tumpangi dilengkapi dengan AC yang nyaman, selain itu interior busnya juga menarik dan memanjakan
mata. Keluar terminal Baranang Siang, bus yang ditumpangi Rama langsung masuk
tol Jagorawi. Bus masuk dari satu tol ke tol lain. Di rest area km 57 tol Cikampek, bus berhenti sejenak untuk
beristirahat. Perjalanan berikutnya adalah naik turun gunung via tol Cipularang Purbaleunyi dan
keluar di pintu tol Pasteur. Sama halnya dengan Bogor, Bandung pun diliputi kemacetan. Macet adalah hal lumrah di kota-kota
besar. Setelah menempuh kemacetan yang cukup panjang, akhirnya Rama tiba di
terminal Leuwi Panjang sekitar jam 12.30.
Rama turun dari bus, dia
tidak langsung melanjutkan perjalanan tetapi pergi mencari mushola dan
menunaikan salat Dzuhur. Pak Mustopa,
Ayahnya Rama selalu berpesan untuk tidak meninggalkan salat meskipun dalam perjalanan. Usai melaksanakan salat Dzuhur, Rama menuju rumah makan untuk makan siang.
Selesai makan, Rama bersiap melanjutkan perjalanan.
Beberapa orang menawari
Rama untuk naik Elf ke Garut. Elf memang merupakan salah satu alternatif angkutan
menuju Garut. Namun begitu,
Rama tak langsung memutuskan untuk naik Elf. Dia masih menantikan bus ‘Harum Sari’ yang biasa
beroperasi membawa penumpang dari Leuwi Panjang menuju Garut. Berselang tiga
puluh menit, Rama menemukan bus yang ia cari. Rama langsung naik ke bus.
Bus Harum Sari
adalah bus ukuran tiga perempat yang cukup bagus! Bentuknya minibus, dan di
dalamnya terdapat AC, tempat duduknya terdiri
dari 2 baris dan kursinya cukup empuk. Kondisi bus ini masih bagus dan terawat.
Tidak perlu menunggu berlama-lama, setengah jam kemudian bus yang ditumpangi
Rama sudah berangkat. Di bagian depan bus ada sebuah televisi yang memutar
karaoke lagu. Kali ini nyanyian Lagu Untuk Sebuah Nama dari Ebiet G. Ade mengalun dalam perjalanan Rama
dari Leuwi Panjang menuju Garut.
“Mengapa dadaku mesti bergoncang. Bila kusebutkan
namamu. Sedang kau diciptakan bukanlah untukku Itu pasti tapi aku tak mau
perduli. Sebab cinta bukan mesti bersatu. Biar kucumbui bayanganmu dan
kusandarkan harapanku”
Bersambung....

Komentar
Posting Komentar