Cerita Mini : Kisah Eksekutif Muda dan Seorang Kakek Tua


Suatu sore diwaktu shalat Ashar, Indra menyempatkan untuk mengerjakan shalat ashar di masjid dekat kantornya sebelum pulang ke rumah. Dia mengerjakan shalat Ashar dengan kurang khusyu. Di pikirannya ada sekelumit masalah yang mengganggu. Dia tak dapat konsentrasi karna ada sesuatu yang sedang ia pikirkan tentang kebenaran.

Siang tadi sewaktu masih di kantor. Indra di temui rekan kerjanya untuk mendengarkan laporan keuangan dari proyek yang mereka kerjakan bersama. Kebetulan Indra adalah pimpinan proyek dan rekannya tersebut bagian bendahara. Sang Kawan menawarkan untuk berbagi keuntungan dari proyek itu. Ada sisa uang yang nilainya lumayan besar, ditaksir puluhan juta. Sang Kawan menyampaikan idenya untuk me"Markup" laporan keuangan agar seolah-olah anggaran yang ada telah habis tanpa sisa. Atas ide sang kawan, Indra menyatakan pikir-pikir.

Disatu sisi Indra merasa berhak atas uang itu. Wajar karna dia adalah pimpinan proyek dan berkat kerja kerasnya proyek yang dia pegang bersama rekan-rekannya bisa sukses. Namun di hatinya yang paling dalam dia juga mempertanyakan apakah itu benar atau salah. Apakah uang itu halal atau haram. Pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawabnya.

Selepas Shalat Ashar Indra beranjak untuk segera pulang ke rumah. Dalam langkahnya di tangga masjid. Dia mendapati seorang Kakek yang tengah menangis. Ia memperhatikan Kakek tersebut. Ia ingin tahu kenapa Kakek itu tampak sedih sekali. Ia mendekati sang Kakek.

"Kenapa Kek?"

"Sudah seminggu ini Kakek selalu ke sini.. Duduk disini sepanjang hari" ucap kakek yang tengah bersedih sambil memegang sepasang sendal jepit berwarna hijau di tangannya.

"Memang apa yang sedang apa Kakek disini? Apa Kakek mencari sesuatu?"

"Kakek mencari pemilik sendal jepit ini nak, seminggu yang lalu sendal kakek tertukar dengan sendal jepit ini" terang Kakek.

"Ya sudah Kek, bawa saja sendal ini pulang, pakai saja sendal ini. Anggap ini sebagai gantinya." Terang Indra.

"Atau apa sendal Kakek lebih bagus dari sandal ini sehingga kakek tidak menginginkan sandal jepit ini?" tanya Indra melanjutkan.

"Tidak Nak, sandal ini bukan hak Kakek. Jadi bagaimanapun Kakek harus mengembalikan sandal ini kepada pemiliknya. Kakek tidak ingin menanggung dosa karna mengambil hak orang lain"

Indra tertegun. Pikirannya langsung tertusuk oleh kalimat Kakek yang cukup panjang. Tak berselang lama. Sang Kakek pamit. Sang Kakek berjalan dengan rintih, dengan kaki telanjang. Sendal jepit yang sedari tadi dipegangnya pun hanya ia jinjing dengan tangannya.

"Janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan jalan yang batil dengan cara mencari pembenarannya kepada hakim-hakim, agar kalian dapat memakan harta orang lain dengan cara dosa sedangkan kalian mengetahuinya. (QS Al Baqarah: 188)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

School and The Friends : Pulang Mei!

Wedding Story : Ku Pinang Kau dengan Bismillah

Blog Series : Antara Mimpi, Janji, dan Cinta - Episode 3