Blog Series : Antara Mimpi, Janji, dan Cinta - Episode 3


Usai menghadiri gelaran Festival Sastra Garut, Rama kembali ke Bogor dengan tekat kuat di dadanya. Pertemuannya dengan Tari dan berbekal intuisi yang melekat di hatinya menumbuhkan semangat di dalam dirinya untuk segera menyusun rencana. Bagaimanapun dia harus segera mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis. Bukan saja untuk dirinya tetapi juga untuk janji yang telah dia buat, untuk seseorang yang begitu membuatnya terkesan, Tari.
Siang itu, saat matahari hampir sampai di titik tengah, Rama sampai di rumahnya. Belum sampai di pintu rumah, dari arah pandang dua puluh meter, Rama tersentak. Beberapa orang tetangganya dan beberapa orang guru di sekolah ayahnya tampak berkerumun di pintu masuk rumah Rama. Jantung Rama perlahan berdetak kencang, sejuta tanya pun menyeruak dihatinya. Rama berlari dengan cepat menuju rumahnya. Rama sempat bertanya pada orang-orang yang berkerumun di pintu rumahnya. Rama pun masuk ke dalam rumah.
“Bapaaakkkk.” Teriak Rama melihat ayahnya yang tengah di kerumuni beberapa orang di ruang tengah rumahnya.
“Bapak kenapa Bu?” Tanya Rama pada ibunya yang tengah mendampingi Pak Mustopa yang tengah berbaring.
“Bapakmu pingsan Ram, tadi sewaktu ngajar di sekolah.” Turur Ibu Fatimah, ibunya Rama.
Lalu Rama memegang tangan ayahnya. Ditatap wajah ayahnya yang hitam kusam, kulitnya yang bergaris keriput, dan rambutnya yang tidak lagi hitam. Rama pun menitikkan air matanya. Orang tua itu memang sudah melakukan banyak hal untuk keluarganya. Menyekolahkan anak-anaknya. Tetapi dia yang mestinya duduk di kursi goyang, masih harus memikul beban. Beban yang berat dari zaman yang mungkin bukan lagi zaman baginya.
Sesaat kemudian Pak Mustopa siuman.
“Rama.. Ibu.. ada apa ini?”
“Sssttt... Bapak jangan banyak bicara dulu.”
Setelah Pak Mustopa siuman beberapa orang yang berkumpul di rumah Rama kemudian pamit pulang.
Beberapa hari berlalu, Pak Mustopa sudah kembali sehat. Rama sangat bersyukur orang tuanya masih diberi anugerah kesehatan. Dia kemudian bisa kembali berkonsentrasi untuk menjalankan rencananya mewujudkan impiannya menjadi seorang penulis novel.
Malam itu ditemani lampu meja, Rama mengambil beberapa helai kertas polio. Satu buah pulpen sudah mantap dia genggam dan siap menjamah ribuan kata yang akan melahirkan sejuta makna. Saat dia mulai menuliskan kata-kata yang sudah antre di otaknya, Rama diheningkan oleh suara batuk ayahnya. Kontan ribuan kata yang sedari tadi sudah mengantre untuk ditulis memilih untuk membubarkan diri.
Di keheningan malam itu, Rama menghela napas panjang. Dia menaruh pulpen yang sudah diapit kuat oleh jari-jarinya. Dia lalu beranjak melangkahkan kaki ke kamar ayahnya. Dihampirinya Sang Ayah yang nampak tengah dipusingkan oleh helai-helai kertas di meja kerjanya.
“Bapak sedang apa? Kok belum tidur, harusnya Bapak istirahat.”
“Ini Ram, Bapak sedang menghitung-hitung laporan BOS.” Ujar Pak Mustopa.
“Memang laporan terakhir dikirimkan kapan Pak?”
“Lusa, tetapi Bapak bingung. Terlalu banyak pengeluaran tanpa kuitansi.”
“Pasti dana-dana ‘partisipasi’ ya Pak?
“Ya biasalah Ram. Kita kan cuma bisa manut saja.”
“Kenapa orang-orang tidak menolak dana-dana ‘partisipasi’ itu?
“Buat apa Ram? Itu kan cuma mempersulit diri.”
“Ya sudah, Bapak sekarang istirahat saja, biar pekerjaan ini Rama yang mengerjakan.”
“Enggak usah Nak.. Inikan pekerjaan Bapak.”
“Bapak sudah terlalu banyak bekerja, untuk keluarga, untuk sekolah, sekarang izinkan Rama bekerja untuk Bapak.”
Pak Mustopa luluh.. dibukanya kacamata yang menjadi jembatan antara dirinya dan tulisan.  Dirapikannya berkas-berkas yang mengumpul di meja kerjanya dan diserahkan kepada Rama. Rama menerima berkas-berkas itu dengan senyum ikhlas di wajahnya.
                    Antara Mimpi, Janji, dan Cinta - Episode 2
Rama beranjak kembali ke kamarnya lalu ditaruhnya berkas-berkas itu dimejanya, disamping kertas-kertas polio yang siap dia jadikan lembaran-lembaran cerita. Lalu digenggamnya kembali pulpen yang sudah dia taruh. Beberapa kata kemudian mulai mengantre di otaknya untuk dituliskan namun tidak sebanyak tadi. Baru beberapa kalimat dia tulis, pulpennya tidak mau lagi menuliskan kata. Rama pun terdiam lalu ditatapnya berkas-berkas pekerjaan ayahnya. Rama kembali menghela napas panjang. Lalu dirapikannya kertas polio yang berkumpul di mejanya dan dia taruh disamping mejanya. Dia lalu meraih berkas-berkas pekerjaan ayahnya. Dia kemudian membuka helai demi helai, membaca dan mempelajarinya. Lalu pikirannya mulai bekerja. Pulpenya dengan leluasa menuliskan angka-angka. Malam itu dia menyelesaikan pekerjaan ayahnya menyusun laporan keuangan.
***
Di pagi hari kala mentari sudah tersenyum indah, disambut canda tawa pepohonan dan nyanyian burung-burung di atas pohon, Rama sudah berdandan rapi seperti seorang guru. Kemeja biru langit dan celana bahan biru donker lengkap dengan dasi dan sepatu pantopel sudah serasi membalut tubuh Rama. Bu Fatimah dan Pak Mustopa sempat terheran-heran melihat penampilan Rama seperti itu. Tidak biasanya Rama berpakaian seformal itu.
“Rama, kamu rapi amat. Mau kemana?” Tanya Ibu Fatimah.
“Ke sekolah Bu.” Jawab Rama.
“Ke sekolah Bapak?” Tanya Bu Fatimah lagi.
“Iya Bu. Gimana Bu penampilan Rama, sudah seperti seorang guru kan?”
“Iya Nak. Kamu sudah pantas sekali jadi Guru, Ganteng.. hehehe.”
“Ah Ibu bisa saja.”
“Kamu mau ikut Bapak ke sekolah Ram?” Tanya Pak Mustopa menyela.
“Siapa bilang Rama mau ikut Bapak, Rama mau berangkat sendiri kok.”
“Kenapa gak berangkat bareng Bapak, gengsi yah?”
“Pak, mulai hari ini Bapak di rumah saja, ditemani Ibu. Soal sekolah biar aku yang mengurus.”
Pak Mustopa dan Ibu Fatimah keheranan mendengar kata-kata Rama.
“Kamu serius Ram?”
“Rama serius Pak.”
“Sudah pokoknya, Bapak istirahat di rumah ditemani Ibu. Biar Rama yang bekerja untuk keluarga. Sudah waktunya Rama membaktikan diri Pak, Bu.”
Kontan Pak Mustopa memeluk Rama dengan erat. Dia begitu terharu melihat anaknya sudah tumbuh dewasa. Inilah momen yang dia tunggu-tunggu selama ini. Bu Fatimah menitikkan air matanya melihat anak dan suaminya yang telah menemukan arti keluarga.
Rama pun tiba di sekolah tempat ayahnya mengabdikan hidup. Inilah SD Harapan Warga, sebuah sekolah dasar yang terletak di tengah kampung. Sekolah dasar swasta yang sudah berdiri lebih dari dua dekade. Dulu sekolah ini banyak orang tua yang menitipkan putra putrinya di sekolah ini. Namun semenjak berdiri SD Negeri yang letaknya tidak jauh dari SD Harapan Warga. Muridnya terus berkurang. Sekarang hanya ada sekitar dua ratus siswa yang bersekolah di SD itu.
SD Harapan Warga memiliki enam lokal dan satu buah kantor. Bangunannya kini tidak lagi kokoh, tampak atapnya yang terbuat dari seng sudah karatan. Bocor pun tidak lagi terhindarkan. Temboknya pun banyak yang retak. Lantainya yang berbalut tehel juga sudah tampak lusuh. Inilah potret sekolah swasta yang berada di tengah kampung. Rama punya PR besar untuk membangun sekolah itu.
***
Waktu berlalu dengan bergilirnya hari yang silih berganti. Roda berputar 360 derajat dengan begitu cepat. Siang dan malam saling mengejar, musim datang silih berganti. Semua berubah seiring berputarnya waktu. Rama memutuskan untuk cuti kuliah demi konsentrasi untuk membangun dan memajukan SD yang sejak dulu sudah diperjuangkan oleh ayahnya. Dia mencurahkan semua waktu yang dimilikinya untuk membangun sekolah itu agar bisa bersaing dengan sekolah-sekolah yang berada di sekitarnya.
Hal bodoh yang dilakukan Rama dan Tari saat mereka pertama kali bertemu yaitu mereka tidak sempat bertukar nomor telepon. Perasaan dekat yang mereka rasakan membuat mereka merasa bukan seperti orang yang pertama kali saling mengenal. Akibatnya hal kecil seperti bertukar nomor telepon terlupakan begitu saja. Sepulang Rama dari Garut, praktis belum ada lagi komunikasi antara mereka berdua.
Sayangnya mereka menyadari hal ini ketika pertemuan mereka sudah berlalu. Tari melakukan usaha agar dia bisa berkomunikasi dengan Rama. Lewat jejaring sosial Tari mencoba mencari dan menghubungi Rama. Begitu banyak nama Rama di jejaring sosial, walau pada akhirnya Tari berhasil menemukan akun Rama yang dia maksud. Sayangnya akun Rama tidak up to date. Rama memang tidak begitu gandrung dengan jejaring sosial. Sekadar punya akunya saja, agar tidak dibilang ketinggalan zaman. Selebihnya Rama hampir tidak pernah mengupdate akun jejaring sosialnya.
Meskipun Tari mengalami lost contact dengan Rama, itu tidak mengendurkan semangatnya untuk mengejar mimpi yang telah dijanjikannya bersama Rama. Dia percaya dengan intuisi hatinya, bahwa dia dan Rama saling jatuh cinta. Dia semakin giat menulis. Bila dulu tulisannya hanya terpampang di mading kampus kini tulisan-tulisannya sudah menghiasi koran-koran lokal di Garut. Dia sudah melebarkan sayapnya dalam menulis. Dia sudah membuka jalan yang akan mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis.
Saat Tari sibuk menulis puisi dan cerpen untuk dimuat di majalah, Rama tengah sibuk-sibuknya menyusun database kesiswaan dan kepegawaian di sekolahnya. Saat Tari mengirimkan tulisan-tulisannya ke media masa nasional, Rama malah sibuk mengirimkan laporan-laporan sekolah secara online. Saat Tari melihat tulisan-tulisannya terpampang di majalah-majalah remaja nasional, Rama sibuk mencari peluang-peluang bantuan pembangunan sekolah. Saat Tari mulai menyusun rangkaian tulisan untuk dijadikan sebuah novel, Rama sibuk menyiapkan berbagai perangkat administrasi, kelengkapan sarana dan prasarana, dan hal-hal lain untuk akreditasi sekolah. Saat Tari sibuk menawarkan tulisannya ke berbagai penerbit, Rama sibuk menyusun proposal renovasi sekolah ke berbagai lembaga. Saat Tari mendapatkan kabar bahagia dengan diterima novelnya untuk diterbitkan salah satu penerbit nasional, Rama berhasil mendapatkan bantuan renovasi sekolah lewat PNPM mandiri. Saat novel Tari siap untuk diluncurkan, Rama sibuk memimpin renovasi bangunan di sekolahnya. Saat Tari benar-benar mampu mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis. Rama boleh berbangga karena sekolah yang dibangun oleh ayahnya kini sudah berdiri kokoh dan menjadi sekolah dengan sarana prasarana yang layak.

Tari berhasil mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis, mimpi yang juga sebuah janji yang harus ditepati. Sementara itu Rama yang sukses menjalankan dan mengembangkan sekolah yang didirikan ayahnya secara resmi diangkat menjadi kepala sekolah menggantikan ayahnya. Sebelumnya Rama tidak pernah bermimpi menjadi seorang kepala sekolah. Dia hanya ingin jadi penulis. Dua mimpi dan dua kenyataan yang berbeda dialami oleh Rama dan Tari.
Bersambung... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

School and The Friends : Pulang Mei!

Wedding Story : Ku Pinang Kau dengan Bismillah