Blog Series : Antara Mimpi, Janji, dan Cinta - Episode 2


Kurang lebih dua jam perjalanan dari Leuwi Panjang menuju Garut, Rama telah sampai di terminal Guntur Garut. Dengan menggunakan angkutan umum, Rama menuju jalan Ahmad Yani untuk mencari penginapan. Sesampai di Jalan Ahmad Yani, gemerlap Gebyar Garut Festival sudah terasa. Banner-banner besar dan umbul-umbul bertuliskan Gebyar Garut Festival dan ucapan selamat datang menghiasi di sepanjang Jalan Ahmad Yani.
Gebyar Garut Festival adalah sebuah gelaran akbar seni budaya, pariwisata dan ekonomi kreatif diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT Garut. Acara ini dimulai pada awal April dan berlangsung selama satu minggu.  Kalau di Jakarta ada Jakarta Fair, maka Garut punya Gebyar Garut Festival. Rama akan mengikuti Festival Sastra Garut yang diadakan sebagai bagian dari Gebyar Garut Festival yang akan berlangsung besok di Bale Paminton. Supaya dekat dengan lokasi, Rama menginap di sebuah penginapan yang letaknya tidak jauh dari Bale Paminton.
Ini adalah kali kesekian Rama pergi ke Garut. Perjalanannya ke Garut tiga tahun yang lalu membuat dia sekarang harus kembali untuk menebus janjinya. Tiga tahun yang lalu, di tempat yang sama dan  di acara yang sama, Rama bertemu dengan Lestari. Pertemuan yang sungguh tidak diduga. Keduanya bertemu dalam acara tahunan Festival Sastra Garut yang menjadi bagian dari Gebyar Garut Festival. Festival Sastra Garut adalah acara berbalut sastra yang biasanya menghadirkan peluncuran buku sastra baik itu novel, antologi cerpen maupun antologi puisi. Selain diluncurkan, buku-buku tersebut dibedah oleh penulis dan para kritikus-kritikus sastra.
Waktu itu buku yang dibedah adalah novel ‘Ayat-Ayat Cinta’ karya Habiburahman El Shirazy. Hadirin yang datang sangat antusias meskipun penulis novelnya tidak hadir karena berhalangan. Diantara hadirin yang paling antusias adalah Rama Ahmad Prasetya dan Lestari Purnama Juwita. Belum lagi sesi tanya jawab dibuka tapi mereka sudah nimbung bersama para kritikus mengomentari novel ‘Ayat-Ayat Cinta’. Mereka tidak segan menunjuk tangan untuk melempar argumen. Untung saja para narasumber memperbolehkan mereka berdua untuk ikut melempar argumen meskipun sesi pertanyaan untuk umum belum dibuka.
Dalam pandangan Rama dan Tari banyak hal menarik dari novel ‘Ayat-Ayat Cinta’. Rama menyoroti bagaimana novel tersebut mendeskripsikan poligami dari sisi yang berbeda sehingga tidak terlalu memancing perdebatan. Malah pembaca menyukai novelnya. Terbukti dengan buku ini mencetak bestseller dalam penjualannya. Tari menitik beratkan pada hal yang berbeda, Menurutnya Novel ini dapat menjadi syiar paradigma Islam di tengah budaya pop yang semakin merajai. Baginya novel ini adalah syiar yang mujarab bagi pembaca yang haus akan nilai-nilai keislaman dan haus akan ilmu-ilmu tentang ajaran Islam. Ternyata pandangan Tari ini tidak disepakati oleh Rama. Bagi Rama novel ‘Ayat-Ayat Cinta’ bukan bercerita tentang agama Islam atau dengan sengaja melakukan syiar ajaran Islam. Baginya ‘Ayat-Ayat Cinta’ adalah cerita tentang orang-orang Islam yang hidup secara Islami. Jadi tidak ada kaitan dengan syiar Islam maupun bermaksud memberikan ajaran Islam. Dari kedua pandangan itu mereka berdua kemudian malah berdebat tanpa mempedulikan kritikus sastra yang menjadi narasumber.
“Pada dasarnya saya sepakat dengan apa yang disampaikan saudari Tari, tetapi saya masih beranggapan bahwa novel ini bukan mensyiarkan ajaran Islam tetapi berbicara tentang Islam.” Seru Rama.
“Tapi saudara Rama, apa bedanya ‘berbicara tentang’ dengan syiar. Bukankah membicarakan juga berarti mengumandangkan yang berarti syiar?” Sanggah Tari.
“Tidak begitu, Konteksnya berbeda!” Sanggah Rama.
Sayang ditengah perdebatan Tari dan Rama, waktu tidak mengizinkan lagi bagi mereka berargumen dan melempar pendapat. Karena ternyata waktu sudah menunjukkan sesi coffee break. Maka Rama dan Tari menyimpan dulu argumentasi mereka dan melanjutkan acara ke sesi coffee break bersama yang lain.
“Baiklah saudara-saudara, maaf saya harus potong diskusi hangat ini. Karena sekarang sudah tiba waktunya untuk sesi menikmati sajian coffee break.” Ucap moderator diskusi.
Tari masih terlihat penasaran. Dia belum puas karena tidak sempat menyanggah pendapat Rama. Rama pun tersenyum. Tari yang tadinya termangu menjadi tersenyum. Pada detik berikutnya di tengah leburan hadirin, Rama menghampiri Tari.
“Masih ada sesi kedua.” Cetus Rama.
“Iya.. Aku gak apa-apa kok.” Sahut Tari.
“Aku Rama...” Mengulurkan tangan.
“Iya Tau.” Cetus Tari.
“Salaman dong!” Pinta Rama.
“Aku Tari.” Sembari tersenyum.
Coffee break! Pasti laparkan?”
“Iya.”
Rama dan Tari kemudian keluar dari ruang acara dan menuju ruang tempat coffee break dilangsungkan.
Rama dan Tari mengambil beberapa potong kue dan secangkir teh manis yang masih panas lengkap dengan uap yang beterbangan. Setelah mengambil makanan kecil dan minuman mereka keluar ruangan coffee break karena ruang itu tidak cukup muat untuk menampung semua hadirin. Mereka memilih kembali ke ruang acara untuk menyantap kue dan teh manis yang siap mereka nikmati.
“Mau makan dimana?”
“Cari tempat yang nyaman.”
“Disini saja, yang lain disini juga.”
“Penuh, kamu lihat deh! Yang antre juga masih banyak. Ke ruang acara lagi saja gimana?”
“Oke deh ayo!”
Rama dan Tari masuk kembali ke ruang acara. Tampak beberapa orang juga menikmati coffee break di ruang acara. Rama dan Tari kemudian duduk di kursi yang tidak begitu jauh dari pintu keluar.
 “Apa cita-citamu?” Buka Rama.
“Jadi Penulis, Kamu?”
“Sama.”
“Ngikutin.”
“Nggaklah, sudah dari dulu, makanya aku disini.” Jelas Rama.
“Bagaimana kalau kita buat janji.” Sambung Rama.
“Janji apa, masa belum apa-apa sudah buat janji?” Cetus Tari.
“Eh kamu siapa sih.. hehehe? Canda Tari.
“Ya walaupun aku baru pertama bertemu kamu disini, tetapi kok rasanya aku pernah kenal kamu sebelumnya. Kaya udah dekat saja. Bener deh aku tuh kaya pernah sama-sama kamu sebelumnya.” Ujar Rama.
“Dejavu? Aku juga. Aku ngerasa kamu bukan orang asing. Aneh.” Sahut Tari.
“Kamu sudah nulis dimana saja.” Tanya Rama.
“Di mading kampus.”
“Cuma di mading kampus?”
“Memang kamu udah nulis dimana saja?”
“Di mading kampus juga.. hahahaha.”
“Sama saja! Huuuuuuuuhh.”
“Kamu gak kepikiran nulis di majalah?” Tanya Rama.
“Sempet sih.. Cuma aku ngerasa belum waktunya.. tulisanku masih acak-acakan.”
“Aku juga gitu.. kalau baca tulisan sendiri tuh.. berasa tulisanku tuh paling jelek sedunia.”
“Betul banget!” Tari mengiyakan.
“Soal tadi yang aku bilang gimana?”
“Yang mana? kamu kan ngomongnya banyak.”
“Soal janji.”
“Memang kamu mau kita janji apa, kayanya penting banget?”
“Gimana kalau tiga tahun lagi, kita ketemu lagi disini. Di tempat ini. Di acara bedah buku ini tetapi sebagai penulis yang dibedah bukunya.”
“Bodoh.” Ketus Tari
Rama dan Tari kembali mengikuti acara sampai selesai dan melanjutkan kembali perdebatan diantara mereka yang belum selesai. Sampai acara berakhir mereka merasa belum ada yang menang diantara mereka. Tetapi mereka menyikapinya dengan santai, toh pandangan dan pendapat orang mengenai sesuatu memang berbeda-beda bergantung pemahaman dan latar belakang masing-masing. Usai acara, Tari mengajak Rama berjalan-jalan ke alun alun kota Garut. Sesampai di alun-alun Kota Garut Rama tampak terkagum-kagum. Alun-alun Garut merupakan pusat dari kota Garut. Seperti halnya kota-kota yang lainnya, alun-alun Garut memiliki pola-pola yang sama dengan alun-alun di tempat lain.
Pola yang dimaksud adalah adanya masjid, penjara, tempat tinggal bupati atau pendopo dan perkantoran. Selain itu, ciri umum alun-alun di kota-kota tua yaitu di sekelilingnya dibatasi oleh jalan. Di selatan alun-alun terdapat pendopo yang saat ini difungsikan menjadi rumah dinas Bupati Garut. Pendopo sendiri sebenarnya aula tempat bupati melakukan pertemuan-pertemuan dengan para pejabat di bawahnya atau menerima tamu agung.
Di depan pendopo terdapat babancong. Bangunan ini mirip pesanggrahan yang berbentuk panggung. Dalam tata kota tradisional di Tatar Sunda, babancong merupakan bagian dari alun-alun dan terletak di sebelah selatan alun-alun. Bangunan ini biasanya berdiri di depan pendopo kabupaten, yang merupakan kantor dinas bupati. Pada zaman dahulu babancong berfungsi sebagai tempat para pembesar menyaksikan keramaian di alun-alun, atau tempat berpidato. Babancong memiliki kolong yang tingginya kira-kira 2 meter. Sampai sekarang pun, babancong masih digunakan untuk tempat duduk para pejabat jika di alun-alun diselenggarakan berbagai upacara.
Di barat alun-alun terdapat Mesjid Agung Garut. Bangunannya begitu megah dengan eksterior yang artistik. Dulu masjid ini bernama masigit. Di sebelah barat bangunan masjid ini terdapat pemakaman para bupati Garut. Di sebelah utara alun-alun terdapat Kantor Pembantu Gubernur Wilayah Priangan atau Bakorwil. Kantor tersebut awalnya adalah Kantor Asisten Residen Belanda untuk wilayah Priangan. Sementara di sebelah timur alun-alun terdapat penjara yang hingga kini masih difungsikan sebagai Lembaga Permasyarakatan.
Sebelum bersantai-santai untuk menikmati suasana di alun-alun Garut, Rama dan Tari lebih dahulu ke Masjid Agung Garut untuk melaksanakan salat Dzuhur. Usai salat mereka menyantap makan siang di salah satu warung yang berjajar di jalanan alun-alun Garut.
Usai makan siang, Rama dan  Tari berkeliling-keliling di alun-alun kota Garut. Rama sangat tertarik dengan Babancong. Untuk itu Rama mengajak Tari melihat-lihat Babancong yang menurut Rama sangat unik.
 “Babancong! Unik ya namanya?” Ujar Rama.
“Ya ini salah satu ikon alun-alun Garut selain masjid agung dan pendopo.”
“Oh gitu... Babancong ini biasanya dipakai untuk apa?”
“Biasanya dijadikan tempat pembina upacara pada hari-hari besar RI, HUT RI misalnya, para Paskibra mengibarkan bendera didepan Babancong dan Pembina Upara berdiri di Babancong ini. alun-alun menjadi tempat peserta berbaris.”
“Kalau hari biasa digunakan untuk apa?”
“Kalau hari biasa, alun-alun menjadi tempat bermain saja.”
“Oh gitu, Aku pernah dengar katanya Soekarno pernah pidato di tempat ini ya?”
“Ya benar banget, di Babancong inilah Presiden Pertama RI, Soekarno menyebut Garut sebagai Kota Intan. Kota yang berkilau, karena bersih dan tertata dengan baik. Tetapi itu dulu, sekarang sih biasa saja. Lewat sedikit saja dari alun-alun ke arah Pengkolan pedagang kaki lima sudah berebut ruang dengan trotoar.” Jelas Tari.
Rama terdiam sejenak, lalu bertanya “Gimana ajakanku tadi?”
“Ajakanmu yang mana?”
“Ajakanku untuk kita bertemu lagi tiga tahun mendatang sebagai penulis.”
“Gak masuk akal!”
“Kenapa gak masuk akal?”
“Buat apa?”
“Kalau kita sungguh-sungguh melakukannya itu akan jadi pelecut semangat kita untuk menjadi penulis.” Jelas Rama.
“Memang kamu sungguh-sungguh?”
“Iya aku sungguh-sungguh.” Tegas Rama
“Bisakah?”
“Orang yang bersungguh-sungguh pasti berhasil.”
“Kenapa harus tiga tahun lagi.”
“Ya kita kan bisa belajar dan mulai menyusun buku. Pasti butuh waktu untuk itu.”
“Lalu kalau tiga tahun lagi kita benar-benar ketemu, disini, di tempat ini, sebagai penulis buku, terus mau apa?”
“Aku mau Aku dan kamu jadi sepasang kekasih.”
“Uhhhuuukk uhhuukkk.”
“Aku tidak salah dengar.” Cetus Tari.
“Sungguh!”
“Kamu kan tidak tahu siapa aku, lagipula kita baru kenal hari ini.”
“Laki laki itu salah satunya bergerak dengan intuisinya... jika keyakinan dihatinya bilang Ya.. maka dia akan bilang Ya...” Ungkap Rama.
 “Wanita lain lagi, dia lebih butuh banyak pertimbangan.”
“Memang apa yang ada dalam intuisimu?” Tanya Tari.
“Menurut intuisiku, kamu adalah orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupku.” Sahut Rama.
“Intuisimu ngaco!
“Ngaco gimana?” Tanya Rama.
“Ya ngaco, kita baru saja kenal. Tidak beralasan dan tidak ada penguatan.” Timpal Tari
 “Cinta tak butuh alasan.”
 “Oke. Aku paham.” Cetus Tari menyerah.
“Wanita baik-baik itu sekarang seperti ranting di padang pasir...sulit sekali mencari keberadaannya. Tetapi ada. Dan menurutku..kamu salah satunya... dan aku termasuk orang yang percaya bahwa wanita baik-baik untuk lelaki baik-baik dan sebaliknya.”
“Quran Surat An Nuur ayat 26! Gimana cara kamu menilai aku baik?”
 “Aku memang tidak mengenalmu dari sikap dan sikap tetapi aku tahu jalan pikirmu, dan jalan pikirmu itu yang mengendalikan sikap dan sifat.”
“Memang apa yang kamu tahu dari jalan pikiranku?” Tanya Tari.
“Dari caramu berpikir tentang bagaimana mengenakan pakaian, kamu paham etika dan norma sopan santun.”
“Dari caramu berpikir tentang bagaimana bergaul yang baik, kamu tahu bagaiamana menempatkan diri.”
“Itu aja?”
“Cukup itu.”
“Baiklah.”
“Baiklah untuk apa?” Tanya Rama.
“Intuisimu.”
“Jadi kamu setuju dengan tawaranku?
“Kita lihat tiga tahun lagi.” Tari tersenyum.
“Oya gimana kalau tiga tahun lagi, salah satu dari kita itu gagal atau belum berhasil jadi penulis atau gimana kalau kita berdua gagal jadi penulis?”
“Ya kamu tidak perlu menerima aku jadi kekasihmu?”
“Kok gitu? Semudah itu, lalu kamu kemanakan intuisimu?”
“Intuisiku tetap kamu.” Tegas Rama.
“Ah aku gak ngerti jalan pikirmu!”
“Sudahlah.. lagipula kalau kita jodoh.. kita pasti bertemu kembali.. dan pasti kamu jadi pendamping hidupku. Aku akan selalu berdoa agar Allah menjodohkanku dengan kamu. Amin.”
“Amin.” Tari mengamini.

Rama tersenyum, Tari juga.


Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

School and The Friends : Pulang Mei!

Wedding Story : Ku Pinang Kau dengan Bismillah

Blog Series : Antara Mimpi, Janji, dan Cinta - Episode 3