School and The Friends : Pulang Mei!
Tidak seperti biasanya pagi itu
Mei yang biasanya ceria tiba di sekolah dengan wajah yang datar. Datar karena
keceriaan dari wajahnya hilang. Biasanya Mei berjalan dengan khas dengan
setengah melompat-lompat tapi kali ini tidak. Kakinya begitu ogah-ogahan
menapaki aspal tempat ia berjalan. Mei adalah gadis 14 tahun yang kini duduk di
bangku SMP kelas VIII. Dia tipikal anak yang ramah dan masuk ke semua orang.
Artinya Mei berteman dengan siapa saja dan karena itu dia tidak punya teman
yang spesial.
Kehampaan Mei berlanjut saat jam
pelajaran. Mei yang biasanya cerewet di kelas tiba-tiba jadi pendiam. Bukan so cool, tapi memang ada sesuatu yang
berbeda dari hari biasanya. Sayangnya orang-orang di sekitarnya tidak begitu
peka dengan keadaan Mei. Ya itu tadi karena Mei selalu ceria dan tak pernah
terdengar punya masalah.
Saat jam istirahat, Mei bukannya
ke kantin tapi malah berdiri di depan pintu kelas. Memandang ke arah
orang-orang yang berlalu lalang tapi tidak jelas dia melihat apa atau
memperhatikan siapa. Tatapan kosongnya lagi-lagi tidak memancing orang-orang di
sekitarnya untuk bertanya. Tiba-tiba ada sesosok guru yang menghampirinya.
“Eeeheemm”
“Eh Pak Barra” kata Mei spontan.
“Jangan ngelamun, nanti kesurupan
lho!” ledek Pak Barra.
“Ih.. ngedoainnya kok gitu” Mei
ngedumel.
“Becanda Mei” ralat Pak Barra.
“Au Ahh”
“Saya mau nitip memo nih..”
“Memo... buat siapa Pak” Tanya
Mei.
“Buat Rania sama kawan-kawannya..
tar lagi mereka kesini” jelas Pak Barra.
“Ya kenapa gak Bapak yang kasih
aja” tanya Mei lagi.
“Kalo saya yang kasih kenapa
harus pake memo”
“Oh iya ya”
“Tapi nanti bilangnya ini dari
Lulu ya” pinta Pak Barra.
“Kok gitu?” Mei bingung.
“Ya pokoknya gitu.. Udah ya saya
ke kantor dulu” pungkas Pak Barra sambil berlalu dari hadapan Mei.
“Tapi Pak...”
“Yah ada-ada aja nih si Pak Barra”
dumel Mei.
Tak berapa lama Rania dan
kawan-kawannya datang. Mei langsung memberikan memo yang dititipkan Pak Barra.
Rania dan kawan-kawan begitu
antusias menerima dan membaca memo itu.
***
Pulang sekolah Mei langsung
menuju gerbang sekolah. Padahal biasanya dia menunggu mobil yang menjemputnya
di lobi sekolah. Alhasil begitu sopir jemputannya datang dia kebingungan karena
Mei tidak ada di tempat. Pak Yadi sopir jemputan Mei begitu panik. Belum lagi
hape Mei tidak bisa dihubungi karena tidak aktif. Akhirnya semua jadi sibuk
mencari Mei kesana kemari. Tidak hanya Pak Yadi dan sekuriti, teman-teman dan
guru-guru juga ikut panik mencari Mei.
Di tengah kepanikan itu Mei malah
main ke sebuah mall yang letaknya cukup jauh dari sekolah. Di mall itu memang
tempat main Mei dan teman-teman sekolahnya bila ada waktu senggang. Mei yang
sebenarnya tidak tau mau kemana dan mau melakukan apa, hanya berputar-putar tak
karuan. Sampai akhirnya secara tidak sengaja Mei bertemu dengan Pak Barra. Pak
Barra langsung menghampiri Mei.
“Mei...” sapa Pak Barra.
“Bapaak.. kok di sini” ucap Mei
setengah kaget.
“Kok belum pulang Mei?” tanya Barra.
“Bete Pak di rumah juga” Cetus
Mei.
“Ya terus kamu mau ngapain di
sini?” tanya Barra lagi.
“Jalan-jalan aja” Jawab Mei
pendek.
“Bapak sendiri lagi ngapain di
sini? Hayoo lagi janjian ya..” goda Mei.
“Enggak.. Enggak.. Saya abis..”
nunjuk-nunjuk gak jelas.
“Nah.. Abis beli tissue.. hhhh..
kebetulan tisu nya abis”
“Ahh.. Bapak gak jelas ahh..”
Mei beranjak meninggalkan Pak Barra
yang sedang mencari-cari penjelasan lanjutan.
“Mei kamu mau kemana?” tanya Pak
Barra.
“Kenapa Bapak mau nemenin?” tanya
balik Mei dari jauh.
“hmmm nih anak” gumam Barra
sambil mengejar langkah Mei.
Mei akhirnya berhenti di arena permainan. Pak Barra pun menemani Mei.
“Ahh bocah mainannya timezone”
ledek Pak Barra.
“Seru kali Pak” seru Mei.
“Ini namanya DDR Pak.. Bapak mau
nyoba..” tanya Mei.
“Ah mening nari jaipong deh”
Dengan lincahnya Mei menari di
atas permaian Dance-Dance Revolution.
Mei sudah expert banget main DDR mulai
dari style Backwardsing, Bar Jumping, CirclesHand Plant, sampai Knee Drop semua
dilahap habis. Pak Barra Cuma bisa geleng-geleng melihat melihat kelincahan Mei
bermain DDR.
“Cobain Pak sini!” ajak Mei.
“Enggak, enggak, enggak” tolak
Pak Barra
Mei turun dan mendorong badan Barra
sampai naik ke permainan DDR..
“Bapak tinggal injak-injak panah
doang Pak.. samain kaya yang di monitor”
“Tuh kan Pak bisa” seru Mei
senang.
“Nah cobain yang ini ya Pak” Mei
mulai jail.
“Eh diapain tuh” Pak Barra mulai
cemas
“Ini chalenge Pak.. selamat senang-senang” ujar Mei sambil haha hihi.
“Kok jadi cepet gini”
“Hahahaha.. terus pak terus..”
“Mei.. udah mei..
“terus Pak terus..
“Eh. Ehe.. ehh,, aduuuuhhh”
Guuuubbrakkk.. Pak Barrapun jatuh
karena kakinya terpeleset.
“Jiaahhh si Bapak pake jatuh
segala”
“Ehhh.. dosa lho ngerjain
gurunya” sambil merapikan badan..
Pak Barra mengambil tas dan
melangkah pergi.
“Pak mau kemana?”
“Kenapa mau nemenin” tanya balik Pak
Barra dari jauh..
“Yaaahhh marah deh si Bapak”
gumam Mei sambil memburu langkah Barra.
“Bapak mau kemana sih?” tanya
Mei.
“Nganterin kamu pulang” Jawab Pak
Barra.
“Ahh.. Saya bisa pulang sendiri
Pak. Bapak pulang mah pulang aja” tolak Mei.
“Konyol kalau saya biarkan kamu
keluyuran sendirian” jelas Pak Barra.
Akhirnya Mei menuruti perintah
gurunya untuk pulang. Mei dan Pak Barra pun sampai di parkiran.
“Pakai helmnya!” pinta Pak Barra.
“Haahh.. apaan coba helm. Udah
kaya astronot aja gue” dumel Mei.
“Buat keselamatan” jelas Pak
Barra.
Diapakailah helm oleh Mei sambil
ogah-ogahan.
**
Hari sudah mulai gelap.. Langit
yang berwarna jingga turut melukiskan malam yang akan segera datang. Lampu-lampu
jalan mulai menampakkan diri.
“Pak ternyata naik motor nikmatin
suasana magrib itu seru juga ya Pak, Sering-sering ah nebeng motor Pak Barra
hehe”
“Nebeng? Bayar! mana ada yang
gratis..”
“Ah si Bapak sama anak murid aja
itungan”
Pak Barra terus melaju mengejar
waktu. Barra tidak mau Mei sampai di rumah terlalu malam. Beberapa saat kemudia Mei dan Pak
Barra sampai di rumah Mei. Tampak di meja tamu ada beberapa orang yang
berkumpul. Barra mengantar Mei hingga ke ruang tamu. Keduanya diterima Papa dan
Mama Mei dengan wajah yang penuh kecemasan bercampur kemarahan. Mei langsung
masuk dan menyalami Papa Mamanya. Sementara Barra hanya duduk terpaku di depan
pintu masuk. Papa dan Mama Mei kemudian menghampiri Barra.
“Kamu guru macam apa? Mengajak anak saya
keluyuran malam-malam” buka Papa Mei.
“tadi sore Pak belum malam” bela
Pak Barra.
“Yaa terserahlah”
“Kamu tau, anak saya belum pernah
naik motor.. Kamu mau jamin keselamatan anak saya” lanjut Papa Mei masih dengan
sedikit emosi.
“Tadi pake helm Pak..
Alhamdulillah selamat” Bela Pak Barra lagi.
“pake helm-pake helm” cerocos
Papa Mei.
“Ya sudah tunggu apa lagi.. sana
pulang” usir Papa Mei
“Oh iya.. pak saya lupa” ucap Pak
Barra polos.
Barrapun mengulurkan tangannya
untuk bersalaman. Namun tangannya tidak menemui tangan Papa Mei.
“Assalamualaikum” tutup Pak Barra
gugup.
“walaikumsalam” jawab Papa Mei ketus.
Beberapa saat setelah Pak Barra
pergi. Papa Mei meluapkan setengah emosinya ke Mei.
“Apa-apaan sih Mei..” buka Papa
Mei.
“Apa sih Pak.. Papa kok gitu sama
guru Mei..” Bela Mei.
“Orang kaya gitu gak pantes jadi
guru” ucap Papa Mei.
“Justru Pak Barra suruh Mei
pulang dari tadi, tapi Mei nya gak mau” Bela Mei lagi.
“Sudah-sudah kamu jangan membela
guru kamu itu”
“Kenapa sih Pa kok ribut-ribut terus,
Sudah, kasihan Mei mau istriahat” Mama Mei menengahi.
“Ini Mei harus tau Ma kita dari
tadi sibuk nyari dia.. Sampe semua kerjaan ditinggalkan di kantor.. Papa sama
Mama pengin mastiin kamu baik-baik aja” ungkap Papa Mei.
“Terus kenapa HP nya kamu matiin”
tanya Papa Mei.
“Lowbat Pah” jelas Mei.
“Kenapa kamu gak langsung pulang
kaya biasaya” tanya Papa Mei lagi.
“Bete Pah.. tiap hari gini
terus.. gak ada siapa-siapa di rumah” ungkap Mei.
“kamu harus ngerti dong Nak..
Papa mama minggu ini memang lagi banyak kerjaan” jelas Mama Mei.
“Mei tanya sekarang, Papa mama
kerja untuk apa sih?” tanya Mei setengah marah.
“Ya untuk keluarga kita dong sayang”
jawab Mama Mei.
“Ya kalau Papa Mama kerja buat
keluarga terus kenapa harus ninggalin keluarga.. Katanya buat keluarga tapi
malah ninggalin keluarga” ungkap Mei lagi.
Papa Mama Mei Cuma diam mendengar
keluhan Mei yang menusuk itu. Mei yang menahan air mata sedari tadi langsung
berlari ke kamarnya. Kadang wajah ceria bukanlah gambaran jiwa yang
sesungguhnya. Mei terlalu pintar menyembunyikan keadaan.

Komentar
Posting Komentar