Blog Series : Antara Mimpi, Janji, dan Cinta - Episode Terakhir


Pagi yang cerah di gelaran Gebyar Garut Festival. Garut tampak berwarna warni. Apalagi di sekitar jalan Ahmad Yani dan Alun-Alun Kota Garut begitu terasa semarak. Umbul-umbul, baliho, spanduk, bertebaran di sekitar jalan Ahmad Yani. Di dekat alun-alun Kota Garut tampak panggung hiburan sudah siap memanjakan masyarakat Garut.
Rama yang pagi ini sudah siap dengan setelan kemeja casual merah maroon dan celana jeans biru kehitaman berjalan kaki menuju Bale Paminton tempat berlangsungnya Festival Sastra Garut yang juga menjadi bagian dari Gebyar Garut Festival. Sesampai di Bale Paminton, tampak orang-orang memadati meja registrasi di pintu masuk Bale Paminton. Warga Garut terutama kalangan mahasiswa tampak antusias untuk mengikuti acara. Hal ini bukan tanpa alasan, karena hari ini Lestari Purnama Juwita, puteri daerah asli Garut akan meluncurkan dan membedah novel pertamanya yang berjudul ‘Antara Mimpi, Janji, dan Kita.’
Usai melakukan registrasi Rama langsung masuk ke dalam. Tampak orang-orang sudah menyegel kursi masing-masing. Rama melihat-lihat kursi yang kosong. Pilihannya pun jatuh pada kursi kosong di baris ke 12. Sebenarnya di depan masih banyak kursi yang kosong namun Rama tidak memiliki kepercayaan diri untuk duduk di depan. Rama pun duduk di kursi yang sudah dia pilih.
Beberapa saat kemudian Tari dengan didampingi beberapa orang masuk ke ruang tempat berlangsung acara. Semua hadirin yang sedari tadi duduk langsung berdiri untuk melihat Tari. Rama pun tidak kalah penasaran. Diantara kerumunan orang-orang Rama berusaha mencari celah kosong untuk melihat Tari. Di dalam hatinya Rama berharap Tari melihat dirinya. Namun ternyata Tari langsung ke depan dan duduk di kursi khusus untuk para tamu undangan.
Festival Sastra Garutpun dimulai. Tarian Jaipong dari Jawa Barat menyambut hadirin dan para tamu undangan. Festival Sastra Garut kemudian dibuka oleh Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Garut. Menuju acara utama, panitia memberikan jeda waktu untuk narasumber bersiap-siap. Rama sempat berniat menghampiri Tari disela jeda itu. Namun dia urung melakukannya.
Acara utama yaitu launching dan bedah novel ‘Antara Mimpi, Janji dan Cinta karya Lestari segera dimulai. Tampak Tari dan beberapa narasumber lain yaitu kritikus sastra dari ibu kota mengisi podium yang telah disediakan. Tari yang berjalan menuju podium mengundang decak kagum hadirin. Penampilannya yang begitu anggun, mengenakan busana muslim merah muda dan hijab yang begitu cantik membuat dirinya penuh pesona. Rama pun terkesima melihat penampilan Tari yang sekarang jauh berbeda.
Novel Tari pun resmi dilaunching, dengan penyerahan novel pada beberapa pejabat daerah dan kritikus-kritikus sastra yang menghadiri acara. Tari begitu bahagia. Saat itu hanya senyum cantik yang terpampang diwajahnya. Dia juga tidak segan melempar senyum ke arah hadirin. Bagaimanapun dia sadar bahwa dia besar karena orang-orang yang menyukai tulisannya. Orang-orang yang mendukungnya dengan ikhlas untuk menjadi seorang penulis.
Acara kemudian dilanjutkan dengan bedah novel ‘Antara Mimpi, Janji dan Kita’. Banyak pujian yang dilontarkan kritikus kepada Tari. Sebagai penulis novel pemula Tari berhasil menggarap sebuah novel yang penuh dengan rasa. Ini tidak lain karena kelihaian Tari dalam memilih kata, memainkan gaya bahasa, dan membuat deskripsi dan narasi yang begitu detil pada setiap bagian cerita di novelnya. Namun begitu beberapa kritik juga datang, diantaranya adalah mindset novelnya yang kurang universal karena terlalu fokus pada kultur dan latar belakang tertentu.
Acara kemudian diselingi coffee break. Di momen inilah dulu Rama menghampiri Tari dan mengajaknya berbicara. Saat ini dia ingin mengulang momen serupa. Namun lagi-lagi ya tidak memiliki kepercayaan diri untuk menghampiri Tari untuk sekadar berucap ‘hai’ dan ‘apa kabar’. Tapi wajar saja nyali Rama ciut. Tari yang sekarang memang bukan Tari yang dulu lagi. Sekarang Tari adalah seorang penulis. Maka di momen coffee break pun Tari berada ditengah-tengah para pejabat daerah, kritikus sastra dan undangan-undangan penting lainnya.
Acara kemudian kembali dilanjutkan. Ini adalah saatnya sesi tanya jawab. Kali ini Rama kembali mendapatkan kesempatan untuk menarik simpati Tari. Setidaknya membuat Tari sadar bahwa ada Rama di ruang ini. Namun ternyata tidak semudah itu karena banyak sekali hadirin yang ingin melontarkan pertanyaan. Belum lagi Rama duduk di belakang sehingga tidak terlihat oleh moderator yang menunjuk penanya. Selanjutnya keberuntungan berpihak pada Rama moderator mempersilakan hadirin yang di belakang untuk bertanya dan Rama terpilih menjadi salah satu hadirin yang diperkenankan memberikan pertanyaan. Belum lagi mengucap kalimat tanya, Rama tidak bersemangat. Karena di depan dia lihat Tari tengah sibuk menjawab telepon sehingga tidak memperhatikan dirinya. Akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk memberikan pertanyaan. Moderator pun mempersilakan hadirin yang lain untuk menyampaikan pertanyaan.
Acara pun usai. Tampak Tari dikerumuni para hadirin yang ingin meminta tanda tangan. Novel Tari yang dijual di tempat acara ludes terjual. Untunglah Rama bisa membeli novel itu. Rama lagi-lagi berniat untuk menghampiri Tari. Bukan untuk minta tanda tangan tetapi untuk menunjukkan bahwa dirinya ada. Namun kerumunan orang-orang mengurungkan niatnya. Petugas keamanan juga tampak kewalahan mengatur antrean pembeli novel yang meminta tanda tangan.
Rama memutuskan untuk menunggu Tari di luar. Rama pun keluar ruangan dan berdiri di dekat pintu masuk Bale Paminton. Wajahnya resah penuh arti antara rindu dan malu. Antara siapa dan bukan siapa-siapa. Antara seorang penulis dan seorang kepala sekolah SD di tengah kampung. Beberapa saat saja Rama menunggu, ternyata cukup membuat Rama semakin putus asa. Dia tidak punya lagi keyakinan. Dia sadar Tari sekarang sudah sukses. Rama berpikir Tari takkan mungkin mau bertemu. Bertemu orang yang gagal memenuhi janjinya.
“Dia takkan mau bertemu kamu Rama!!” Gumam Rama.
Perlahan Rama menuruni anak tangga. Selangkah demi selangkah menjauhi gedung sambil terus berharap Tari keluar dan memanggil namanya. Namun asa tinggal asa.
Rama kemudian pergi menuju alun-alun Garut. Dia ingin sekali lagi mengenang kebersamaannya dengan Tari tiga tahun lalu. Kebersamaan yang takkan mungkin lagi terulang menurut pikirnya. Sesampai di alun-alun kota, Rama berjalan menuju Babancong di alun-alun. Di tempat itu dia dan Tari mengobrol banyak hal. Tentang Garut, tentang mimpi, tentang janji, dan tentang dia dan Tari.
Usai melebur rasa rindunya bersama kenangan di alun-alun kota Garut. Rama melangkahkan kakinya menuju penginapan. Sore ini juga dia akan kembali ke Bogor. Dia sudah memenuhi sebagian kecil janjinya untuk datang kembali ke Garut. Namun dia sadar dia tidak membayar janji-janjinya dengan lunas atau bahkan tidak mampu membayar janjinya. Dia merasa pantas mendapatkan apa yang sekarang dia dapat. Dia merasa pantas dilupakan oleh Tari. Lestari Purnama Juwita adalah mimpinya, dia adalah intuisinya. Intuisi yang takkan menjadi nyata. Bagaimanapun janji tetaplah janji, inilah konsekuensi dari sebuah janji. Rama mengibarkan bendera putih untuk cita-cita dan cintanya.
Setelah Rama berlalu dari Alun-Alun Kota Garut, Setengah jam kemudian sebuah mobil minibus silver terparkir di alun-alun kota. Dari mobil itu tampak keluar seorang gadis anggun cantik. Dialah Lestari Purnama Juwita. Tari melihat-lihat sekeliling Alun-Alun untuk mencari seseorang yang terngiang-ngiang dipikirannya. Dia adalah Rama. Sosok yang menjadikannya penuh semangat untuk menjadi seorang penulis. Sosok yang selama ini begitu dirindukannya. Sehingga dia melewatkan tiga tahun kerinduannya untuk sesuatu yang dia sebut sebagai ‘mimpi kita’. Namun sayang dia tidak mendapati Rama. Rama sudah berlalu bersama angin kegagalan dan keputusasaan.
“Ram.. kamu dimana?”
Tari berjalan menuju Babancong. Ditempat itu dia dan Rama mengikat janji. Tari berdiri di dekat Babancong sembari berharap Rama datang dan menemuinya. Tari terus menunggu Rama. Hingga akhirnya langit benar-benar gelap. Tari tidak bertemu dengan Rama. Tari tidak berhasil bertemu dengan pengobat rindunya. Kehidupan Tari sebagai penulis terus berlanjut dengan satu pertanyaan di hatinya.

 “Rama, Kamu dimana?”

Tamat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

School and The Friends : Pulang Mei!

Wedding Story : Ku Pinang Kau dengan Bismillah

Blog Series : Antara Mimpi, Janji, dan Cinta - Episode 3